Guru yang Baik dalah Guru yang Terampil dalam Banyak Hal





Saya mengajarkan topik faktor-faktor yang mempengaruhi gerak benda pada jam pelajaran berikutnya. Saya mempersiapkan semua alat peraga, diantaranya bola basket, bola kasti, bola pingpong, dan beberapa lembar kertas. Pembelajaran akan diakhiri dengan membuat kincir angina sederhana. Dua hari lalu siswa telah diminta membawa sumpit masing-masing. Mentor saya menyediakan paku payung dan kertas origami sedangkan saya menyediakan karet gelang dan plastisin. 

Saya memulai pembelajaran dengan mendemonstrasikan 4 faktor yang mempengaruhi gerak benda menggunakan bola yang telah saya sediakan. Satu jam tersisa digunakan untuk membuat kincir angin. Saya menuliskan pola di papan tulis dan siswa menggambarkannya di kertas origami. Saya menunjukkan cara menggunting dan mengelem. Selanjutnya siswa melilitkan dua karet gelang pada ujung sumpit dengan erat.

Saya membantu siswa dalam menancapkan paku payung dari tengah kertas yang sudah membentuk kincir angin ke ujung sumpit yang telah dililit oleh karet gelang. Tujuannya agar siswa tidak cedera karena paku payung adalah benda tajam. Saya harus cepat dan tepat dalam melakukannya agar kincir angin dapat berputar. Akhirnya pembelajaran hari ini berakhir dengan sangat memuaskan. Siswa terlihat senang memainkan kincir angin hasil buatan mereka.

Saya menyadari bahwa jika saya tidak berlatih membuat kincir angin terlebih dahulu sebelum mengajar maka pasti saya akan kebingungan menghadapi siswa yang salah mengikuti instruksi. Siswa menjadi percaya pada saya karena kincir angin yang dibuat dapat berputar. Saya melihat bahwa salah satu hal yang membuat siswa dapat mempercayai gurunya adalah keterampilan yang dimiliki guru itu sendiri. Siswa merasa senang dapat belajar sesuatu dari gurunya.

Saya menyadari keterampilan sederhana seperti menggunting, mengelem, menggambar, mengaitkan, membentuk, mengikat dan sebagainya sangat perlu untuk dilatih dan dikembangkan. Tuhan Yesus sangat kreatif dalam mengajar. Ia tidak selalu menggunakan metode ceramah. Ia sering menggunakan metode yang kontekstual yaitu mengajar dari pengalaman hidup orang yang mendengarkanNya. Ia sabar dalam menjelaskan pengajaranNya kepada murid-murid. Yesus juga selalu membangkitkan rasa ingin tahu yang besar dari murid-muridNya dalam mengajar. Hal ini mendorong murid-murid untuk mencari tahu setiap Firman yang diajarkanNya.

Tuhan Yesus mempunyai banyak keterampilan yang tentunya diperoleh melalui kerja keras dan latihan. Beberapa diantaranya adalah keterampilan berbicara, mendengarkan, mengemukakan pendapat, memimpin, keterampilan membuat perumpamaan, berdiskusi, dan tanya jawab. Saya selalu merasa bahwa saya adalah orang yang tidak kreatif ketika saya melihat teman-teman mampu membuat alat peraga yang indah. Saya terjebak dalam pemikiran bahwa keterampilan adalah anugerah khusus. Padahal ini adalah konsep yang keliru.

Refleksi saya hari ini mengingatkan saya bahwa Allah adalah pribadi yang kreatif. Ia menciptakan dunia ini dengan sangat sempurna. Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mengagumi karya penciptaan Allah. Mulai dari aneka bunga di taman, beragam hewan yang ada, pemandangan alam yang menakjubkan, serta keunikan setiap manusia. Semua ini menunjukkan bahwa Allah sangat terampil dalam semua bidang kehidupan. Kenyataannya memang saya bukan Allah. Tetapi saya percaya bahwa terampil dan kreatif adalah salah satu sifat Allah yang harus dimiliki oleh semua anak-anakNya.

Saya berkomitmen untuk berlatih lebih baik lagi dalam bidang seni. Guru PGSD seharusnya mampu menguasai bidang ini dengan baik. Semoga saya dapat menjadi guru yang membawa siswa menyadari bahwa dirinya memiliki daya kreativitas karena Penciptanya adalah Pribadi kreatif.

 Rutsri Marlinda Pian

Rabu, 27 Januari 2016


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak